Gowa — Di tengah perubahan zaman, Desa Datara, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, masih teguh mempertahankan salah satu tradisi keagamaannya. Selama 47 tahun, masyarakat Desa Datara konsisten melaksanakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang kini telah menjadi bagian dari identitas dan budaya masyarakat setempat.
Pelaksanaan MTQ di Desa Datara dilakukan secara terstruktur. Kegiatan diawali dari tingkat dusun, kemudian dilaksanakan secara bergilir di lima dusun yang ada di Desa Datara. Para juara dari masing-masing dusun selanjutnya akan bertemu dalam MTQ tingkat desa.
Tahun ini, Dusun Pattabakkang menjadi dusun pertama yang melaksanakan MTQ. Hal tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa KKN-T Universitas Muhammadiyah Makassar Desa Datara yang berposko di Dusun Pattabakkang. Mahasiswa KKN turut dilibatkan secara aktif dalam persiapan danpelaksanaan kegiatan bersama masyarakat.

Bagi KKN-T Unismuh Makassar Posko Datara, keterlibatan dalam tradisi tersebut menjadi pengalaman berharga untuk belajar sekaligus hadir sebagai bagian dari masyarakat.
Muh. Arham, Koordinator Desa KKN-T Unismuh Makassar Posko Datara mengatakan, “Kami tidak hanya datang untuk menjalankan program kerja, tetapi juga ingin berbaur dan ikut mengambil bagian dalam kegiatan masyarakat.”
Kemeriahan MTQ semakin terasa dengan beragam cabang yang diperlombakan, mulai dari *qira’ah, ceramah, tartil Al-Qur’an, adzan, barzanji, hingga cerdas cermat Al-Qur’an*. Setelah Pattabakkang, pelaksanaan MTQ akan berlanjut secara bergilir ke dusun lainnya.
Yang menarik, tradisi yang telah berjalan hampir setengah abad ini tidak bergantung pada dana desa. Kepala Desa Datara, Askar Anwar, S.E., menjelaskan bahwa keberlangsungan MTQ selama ini ditopang oleh kepedulian masyarakat.
“Semua biaya yang digunakan MTQ bukanlah pembiayaan desa, melainkan pembiayaan dari masyarakat sendiri,” ujar Bapak Askar Anwar, S.E.
Masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi dan penghasilan tetap turut berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan kegiatan, termasuk hadiah bagi para pemenang. Semangat tersebut menjadi gambaran kuatnya rasa memiliki masyarakat terhadap tradisi yang telah mereka pertahankan selama puluhan tahun.
Selain MTQ, Desa Datara juga memiliki kekhasan lain dalam tradisi keagamaannya, yakni perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tingkat Desa Datara yang setiap tahunnya berlangsung meriah.
Setiap dusun memiliki kreativitas tersendiri dalam membuat bakul-bakul besar dengan berbagai bentuk unik, seperti perahu, masjid, dan bentuk lainnya. Bakul tersebut kemudian dibagikan kepada warga yang kurang mampu, sehingga kemeriahan Maulid tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian sosial masyarakat.
MTQ dan tradisi Maulid di Desa Datara merupakan dua kegiatan yang berbeda, namun keduanya memperlihatkan nilai yang sama, yaitu bagaimana masyarakat menjaga kehidupan keagamaan sekaligus merawat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
Bagi mahasiswa KKN-T Desa Datara yang berkesempatan terlibat langsung dalam MTQ di Dusun Pattabakkang, tradisi tersebut menjadi pengalaman berharga untuk melihat dari dekat bagaimana sebuah budaya dapat terus hidup karena dijaga bersama.
Empat puluh tujuh tahun bukan sekadar angka. Ia menjadi bukti bahwa sebuah tradisi dapat bertahan ketika masyarakat merasa memiliki, terlibat, dan bersama-sama menjaganya.