Makassar – Di tengah padatnya perkuliahan kedokteran yang identik dengan jadwal praktikum, blok, dan tuntutan akademik, Nailah Amirah, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar, memilih mengambil jeda untuk belajar di ruang yang berbeda. Bukan tentang anatomi atau diagnosis penyakit, melainkan tentang perempuan, kepemimpinan, dan nilai-nilai keislaman melalui Pendidikan Immawati (DIKTI) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Makassar.
Kegiatan bertema "Resilient IMMawati; Creating Impact" yang berlangsung pada 22–24 Mei 2026 di Gedung BBPMP Provinsi Sulawesi Selatan itu menjadi wadah bagi para Immawati untuk memperdalam pemahaman mengenai jati diri perempuan menurut Al-Qur'an, Sunnah, dan pedoman organisasi, prinsip keadilan gender dalam perspektif Islam dan Muhammadiyah, kepemimpinan, hingga peran strategis perempuan dalam gerakan dakwah dan kemahasiswaan.
Bagi Nailah, mengikuti DIKTI bukan sekadar memenuhi proses perkaderan. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk melengkapi pendidikan yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.
"Saya ingin lebih memahami bagaimana Islam memandang perempuan, apa peran perempuan yang sebenarnya, serta melihat berbagai persoalan perempuan dari sudut pandang yang lebih luas," ungkapnya.
Proses belajar di DIKTI pun tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta diajak berdiskusi, mengulas studi kasus, mengikuti permainan edukatif, hingga membedah film Pangku dengan mengaitkannya pada realitas sosial yang dihadapi perempuan saat ini.
Menurut Nailah, metode tersebut membuat peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak berpikir kritis terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
Selama mengikuti kegiatan, ia juga menyadari bahwa pemahaman mengenai isu perempuan masih beragam, bahkan di kalangan mahasiswa sendiri. Perbedaan perspektif yang muncul dalam forum justru menjadi ruang belajar untuk saling memperkaya cara pandang.
"Saya bersyukur memperoleh kesadaran baru dan semangat yang lebih besar untuk menjalankan peran sebagai Immawati. Ilmu dan pengalaman yang didapat sangat bermanfaat, baik bagi organisasi maupun kehidupan pribadi. Diskusi selama kegiatan juga menunjukkan bahwa pemahaman tentang isu perempuan masih perlu terus diperluas agar kita mampu menghadirkan perubahan yang lebih nyata," tuturnya.
Bagi Nailah, menjadi mahasiswa kedokteran tidak hanya berarti mempersiapkan diri menjadi tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga membentuk karakter sebagai pemimpin yang peka terhadap persoalan masyarakat. Ia meyakini bahwa kompetensi akademik dan kesadaran sosial harus tumbuh beriringan.
Melalui pengalamannya, Nailah mengajak para Immawati dan mahasiswa lainnya untuk tidak ragu mengikuti pendidikan kader. "Datanglah dengan niat yang baik dan pikiran yang terbuka.
Manfaatkan setiap kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi, karena di sanalah kita belajar memahami banyak perspektif dan bertumbuh bersama," pesannya.
Di tengah tuntutan akademik yang semakin kompleks, langkah Nailah menunjukkan bahwa pengembangan diri tidak selalu lahir dari ruang kuliah. Terkadang, ia tumbuh dari keberanian untuk berdialog, merefleksikan nilai, dan memahami bahwa ilmu bukan hanya tentang profesi yang akan dijalani, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memberi makna dan dampak bagi masyarakat.
Reporter : A.Nurfaizah Akib